BALI:
Hot
    Responsive Ads
    Home Bali

    BKSDA Bali Hentikan Peragaan Gajah Tunggang

    "BKSDA Bali meminta lembaga konservasi menghentikan peragaan gajah tunggang. Kebijakan ini bertujuan melindungi kesejahteraan gajah dari eksploitasi."

    5 min read

    -
    BKSDA Bali Hentikan Peragaan Gajah Tunggang

    Agus Fauzan Penulis | Miranda Gojali Editor

    BALI, HARIANEXPRESS – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali mengeluarkan surat edaran kepada seluruh lembaga konservasi di Bali. Surat ini meminta lembaga konservasi untuk menghentikan peragaan gajah tunggang. Kebijakan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2026.

    BKSDA Bali menilai peragaan gajah tunggang tidak sesuai dengan prinsip konservasi satwa liar. Kegiatan ini dianggap dapat menyakiti gajah dan melanggar etika perlakuan terhadap satwa.

    Kepala BKSDA Bali R. Agus Budi Santosa menyatakan pihaknya telah mengirimkan surat edaran tersebut kepada semua lembaga konservasi di Bali. Ia menegaskan bahwa kegiatan peragaan gajah tunggang harus segera dihentikan.

    "Kami sudah kirimkan surat edaran kepada semua lembaga konservasi di Bali untuk menghentikan kegiatan peragaan gajah tunggang. Ini bertujuan untuk menjaga kesejahteraan gajah dan mendukung program konservasi yang berkelanjutan" ujar Agus Budi Santosa.

    BKSDA Bali memiliki beberapa alasan kuat untuk menghentikan peragaan gajah tunggang. Alasan utamanya adalah untuk melindungi kesejahteraan gajah yang seringkali menjadi korban eksploitasi dalam kegiatan ini.

    Proses pelatihan gajah untuk dapat ditunggangi seringkali menggunakan metode yang kejam. Gajah-gajah muda dipisahkan dari induknya dan mengalami proses pelatihan yang menyakitkan secara fisik dan psikologis.

    Selain itu beban yang harus ditanggung gajah saat ditunggangi juga dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. Gajah bisa mengalami cedera punggung masalah persendian dan gangguan pencernaan.

    "Peragaan gajah tunggang ini banyak merugikan kesejahteraan gajah. Proses pelatihannya seringkali kejam dan beban yang ditanggung gajah juga berlebihan. Ini tidak sesuai dengan prinsip konservasi yang memprioritaskan kesejahteraan satwa" jelas Agus Budi Santosa.

    Peragaan gajah tunggang memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesejahteraan gajah. Selain dampak fisik ada juga dampak psikologis yang seringkali terabaikan.

    Secara fisik gajah yang sering digunakan untuk tunggangan dapat mengalami deformasi tulang belakang. Ini disebabkan oleh beban berat yang terus-menerus dipikul oleh gajah. Selain itu gajah juga rentan mengalami luka-luka akibat peralatan yang digunakan dalam pelatihan.

    Secara psikologis gajah yang mengalami pelatihan kejam dapat mengalami stres kronis. Mereka seringkali menunjukkan perilaku abnormal seperti mengayun-ayunkan kepala secara berlebihan atau perilaku stereotip lainnya.

    "Gajah yang mengalami stres kronis akan menunjukkan perilaku abnormal. Ini adalah tanda bahwa mereka tidak nyaman dengan kondisi yang mereka alami. Kesejahteraan psikologis gajah sama pentingnya dengan kesejahteraan fisiknya" kata dokter hewan dari BKSDA Bali Drh. Ni Wayan Sudiarti.

    Peragaan gajah tunggang juga dianggap kontradiktif dengan program konservasi yang seharusnya berfokus pada perlindungan satwa liar di habitat alaminya. Kegiatan ini justru mengeksploitasi gajah untuk kepentingan komersial.

    Program konservasi yang sesungguhnya harus berfokus pada perlindungan habitat gajah dan mitigasi konflik antara gajah dan manusia. Gajah seharusnya hidup bebas di alam bukan digunakan sebagai objek wisata.

    "Konservasi itu bukan tentang memanfaatkan satwa untuk kepentingan komersial. Konservasi seharusnya tentang melindungi satwa dan habitatnya. Peragaan gajah tunggang ini justru bertentangan dengan prinsip konservasi yang sebenarnya" ujar Agus Budi Santosa.

    Ia menambahkan bahwa lembaga konservasi seharusnya menjadi contoh dalam perlakuan terhadap satwa liar. Mereka harus memprioritaskan kesejahteraan satwa di atas kepentingan komersial.

    Meskipun peragaan gajah tunggang dihentikan BKSDA Bali menawarkan alternatif kegiatan edukasi yang lebih ramah terhadap gajah. Lembaga konservasi dapat mengganti kegiatan ini dengan program edukasi yang tidak melibatkan kontak langsung dengan gajah.

    Salah satu alternatif yang ditawarkan adalah observasi gajah dari jarak yang aman. Wisatawan dapat mempelajari perilaku gajah tanpa harus mengganggu aktivitas alaminya.

    "Ada banyak alternatif kegiatan edukasi yang lebih ramah terhadap gajah. Lembaga konservasi bisa mengadakan program observasi gajah dari jarak yang aman atau presentasi tentang konservasi gajah. Ini akan memberikan edukasi tanpa harus menyakiti gajah" jelas Agus Budi Santosa.

    Selain itu lembaga konservasi juga dapat mengembangkan program edukasi virtual melalui teknologi augmented reality atau virtual reality. Teknologi ini memungkinkan wisatawan untuk "berinteraksi" dengan gajah tanpa harus menyentuh atau menungganginya.

    Kebijakan BKSDA Bali ini mendapat berbagai tanggapan dari lembaga konservasi di Bali. Beberapa lembaga menyatakan kesiapan mereka untuk menghentikan peragaan gajah tunggang.

    Manajer Taman Budaya Bali Ketut Sudarsana mengatakan pihaknya akan mematuhi kebijakan BKSDA Bali. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan mencari alternatif kegiatan lain yang tetap menarik bagi wisatawan.

    "Kami akan patuhi kebijakan BKSDA Bali. Kami akan hentikan peragaan gajah tunggang dan cari alternatif kegiatan lain yang tetap menarik bagi wisatawan. Kesejahteraan gajah adalah prioritas kami" ujar Sudarsana.

    Namun ada juga lembaga konservasi yang menyayangkan kebijakan ini. Mereka khawatir penghentian peragaan gajah tunggang akan mengurangi pendapatan mereka.

    "Kami menyayangkan kebijakan ini karena peragaan gajah tunggang adalah salah satu daya tarik utama wisatawan. Kami khawatir pendapatan kami akan berkurang jika kegiatan ini dihentikan" kata Manajer Bali Safari Park I Made Wijaya.

    Kebijakan BKSDA Bali mendapat dukungan dari berbagai organisasi perlindungan satwa. Mereka menilai kebijakan ini merupakan langkah positif dalam melindungi kesejahteraan gajah.

    Direktur Eksekutif Animal Friends of Indonesia (AFI) Doni Herdaru Tona menyatakan pihaknya mengapresiasi kebijakan BKSDA Bali. Ia berharap kebijakan serupa dapat diterapkan di seluruh Indonesia.

    "Kami mengapresiasi kebijakan BKSDA Bali untuk menghentikan peragaan gajah tunggang. Ini adalah langkah positif dalam melindungi kesejahteraan gajah. Kami berharap kebijakan serupa dapat diterapkan di seluruh Indonesia" ujar Doni.

    Organisasi internasional seperti World Animal Protection juga menyambut baik kebijakan ini. Mereka menilai Indonesia semakin serius dalam melindungi satwa liar dari eksploitasi.

    Penghentian peragaan gajah tunggang diperkirakan akan memiliki dampak terhadap industri pariwisata Bali. Namun BKSDA Bali meyakinkan bahwa dampak ini tidak akan signifikan.

    Agus Budi Santosa mengatakan Bali masih memiliki banyak daya tarik wisata lainnya yang tidak melibatkan eksploitasi satwa. Ia menegaskan bahwa wisatawan semakin sadar akan pentingnya kesejahteraan satwa.

    "Bali masih memiliki banyak daya tarik wisata lainnya. Wisatawan semakin sadar akan pentingnya kesejahteraan satwa. Mereka lebih memilih destinasi wisata yang ramah terhadap satwa. Jadi saya yakin penghentian peragaan gajah tunggang tidak akan berdampak signifikan terhadap pariwisata Bali" jelasnya.

    Ia menambahkan bahwa Bali dapat mengembangkan konsep pariwisata berkelanjutan yang lebih ramah terhadap satwa. Konsep ini justru akan menarik wisatawan yang peduli dengan lingkungan dan kesejahteraan satwa.

    BKSDA Bali juga memiliki program rehabilitasi untuk gajah-gajah yang telah mengalami eksploitasi. Program ini bertujuan untuk memulihkan kesejahteraan fisik dan psikologis gajah.

    Gajah-gajah yang mengalami stres atau cedera akibat peragaan gajah tunggang akan menjalani program rehabilitasi intensif. Mereka akan dirawat oleh tim dokter hewan dan perawat satwa yang berpengalaman.

    "Kami memiliki program rehabilitasi untuk gajah-gajah yang telah mengalami eksploitasi. Program ini bertujuan untuk memulihkan kesejahteraan fisik dan psikologis gajah. Kami berharap gajah-gajah ini dapat kembali hidup normal tanpa harus mengalami stres atau cedera" kata Drh. Ni Wayan Sudiarti.

    Program rehabilitasi ini meliputi perawatan medis terapi perilaku dan pemulihan nutrisi. Gajah-gajah juga akan diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan gajah lainnya di lingkungan yang lebih alami.

    Selain menghentikan peragaan gajah tunggang BKSDA Bali juga akan mengintensifkan program edukasi masyarakat tentang konservasi gajah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi gajah dan habitatnya.

    BKSDA Bali akan bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan komunitas lokal untuk menyebarkan informasi tentang konservasi gajah. Mereka akan mengadakan presentasi lokakarya dan kampanye kesadaran.

    "Kami akan mengintensifkan program edukasi masyarakat tentang konservasi gajah. Kami bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan komunitas lokal untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya melindungi gajah dan habitatnya" ujar Agus Budi Santosa.

    Ia menambahkan bahwa edukasi masyarakat merupakan kunci untuk keberhasilan program konservasi gajah. Masyarakat yang sadar akan pentingnya konservasi akan lebih mendukung upaya perlindungan gajah.

    BKSDA Bali berharap kebijakan penghentian peragaan gajah tunggang dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi gajah di Bali. Mereka ingin gajah dapat hidup dengan layak tanpa harus mengalami eksploitasi.

    Agus Budi Santosa mengatakan pihaknya akan terus memantau implementasi kebijakan ini di lapangan. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan tegas terhadap lembaga konservasi yang masih melaksanakan peragaan gajah tunggang.

    "Kami akan terus memantau implementasi kebijakan ini. Kami akan mengambil tindakan tegas terhadap lembaga konservasi yang masih melaksanakan peragaan gajah tunggang. Ini untuk memastikan kesejahteraan gajah benar-benar terlindungi" tegasnya.

    Ia berharap kebijakan ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam melindungi kesejahteraan satwa. Konservasi satwa harus menjadi prioritas bukan hanya di Bali tetapi juga di seluruh Indonesia.

    Komentar
    Additional JS