medium banner 300x250
BALI:
Hot
    Responsive Ads
    Home Bali

    Gianyar Bali Tak Beri Dana Ogoh-ogoh ke STT

    "Bupati Gianyar I Made Mahayastra menjelaskan alasan tidak memberikan dana ogoh-ogoh ke STT Denpasar. Ia ingin menumbuhkan jiwa gotong royong generasi "

    3 min read

    -
    Gianyar Bali Tak Beri Dana Ogoh-ogoh ke STT

    Agus Fauzan Penulis | Miranda Gojali Editor

    BALI, HARIANEXPRESS – Pemerintah Kabupaten Gianyar Bali memutuskan untuk tidak memberikan dana hibah ogoh-ogoh kepada Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Denpasar. Kebijakan ini menjadi perhatian banyak pihak mengingat ogoh-ogoh merupakan bagian penting dari perayaan Nyepi di Bali.

    Bupati Gianyar I Made Mahayastra menjelaskan alasan di balik keputusan ini. Ia mengatakan pemerintah ingin menumbuhkan jiwa gotong royong di kalangan generasi muda melalui pembuatan ogoh-ogoh.

    "Kami tidak memberikan dana ogoh-ogoh kepada STT karena kami ingin menumbuhkan jiwa gotong royong di kalangan generasi muda. Mereka harus belajar mandiri dan bergotong royong dalam membuat ogoh-ogoh" ujar Mahayastra.

    Menurut Bupati Mahayastra pembuatan ogoh-ogoh seharusnya menjadi momentum untuk memupuk semangat kebersamaan. Proses pembuatan ogoh-ogoh secara gotong royong dianggap lebih bermakna daripada mengandalkan dana dari pemerintah.

    "Ogoh-ogoh itu bukan sekadar seni tetapi juga media pembelajaran tentang gotong royong. Generasi muda harus belajar bekerja sama mengumpulkan dana secara swadaya dan menciptakan sesuatu bersama" jelasnya.

    Ia menambahkan pembuatan ogoh-ogoh secara gotong royong juga akan meningkatkan rasa memiliki di kalangan pemuda. Mereka akan lebih merawat dan bertanggung jawab terhadap karya seni yang mereka buat bersama.

    Ogoh-ogoh merupakan tradisi unik yang hanya ada di Bali. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang melambangkan buta kala atau kekuatan jahat.

    Prosesi pembakaran ogoh-ogoh memiliki makna simbolis untuk membersihkan alam semesta dari energi negatif sebelum memasuki tahun baru Saka. Tradisi ini telah ada sejak puluhan tahun lalu dan menjadi daya tarik wisatawan.

    Setiap banjar atau desa adat di Bali biasanya membuat ogoh-ogoh untuk diarak keliling kampung sebelum dibakar. Proses pembuatannya melibatkan seluruh warga mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

    Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Denpasar telah beberapa kali mengikuti parade ogoh-ogoh di Gianyar. Karya-karya mereka sering kali menarik perhatian karena menggabungkan teknologi modern dengan seni tradisional.

    Namun Bupati Mahayastra menilai mahasiswa STT seharusnya mampu mandiri dalam membiayai pembuatan ogoh-ogoh. Ia berpendapat sebagai institusi pendidikan tinggi STT memiliki sumber daya yang cukup untuk mengembangkan kreativitas tanpa harus bergantung pada dana pemerintah.

    "Mahasiswa teknologi seharusnya kreatif dan inovatif. Mereka bisa mencari cara lain untuk membiayai ogoh-ogoh mereka misalnya melalui sponsor atau crowdfunding" kata Mahayastra.

    Kebijakan Bupati Gianyar ini mendapat berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian mendukung keputusan ini karena sejalan dengan semangat gotong royong yang ingin dibangun.

    "Setuju dengan Pak Bupati. Ogoh-ogoh itu harusnya dibuat secara gotong royong bukan dengan dana dari pemerintah. Ini akan mengajarkan generasi muda tentang kerja keras dan kebersamaan" ujar I Wayan Suardana warga Gianyar.

    Namun ada juga yang berpendapat berbeda. Mereka menganggap pemerintah seharusnya tetap memberikan dukungan kepada semua pihak yang ikut melestarikan budaya Bali termasuk STT Denpasar.

    "Ogoh-ogoh itu bagian dari budaya Bali. Semua pihak yang ikut mempromosikan budaya ini seharusnya mendapat dukungan dari pemerintah termasuk STT" kata I Ketut Ariwati warga lainnya.

    Meskipun tidak mendapat dana dari pemerintah daerah STT Denpasar memiliki beberapa alternatif untuk membiayai pembuatan ogoh-ogoh. Salah satunya melalui kerja sama dengan pihak swasta.

    "Kami bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang tertarik mendukung seni dan budaya Bali. Ini bisa menjadi win-win solution" kata I Made Sudarmaya dosen di STT Denpasar.

    Selain itu mahasiswa juga bisa memanfaatkan teknologi untuk menggalang dana. Platform crowdfunding bisa menjadi solusi untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang peduli dengan pelestarian budaya.

    "Kami mahasiswa teknologi harusnya bisa memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan seni dan budaya. Crowdfunding bisa menjadi pilihan" ujar Gede Agus mahasiswa STT Denpasar.

    Meski menuai pro dan kontra kebijakan Bupati Gianyar ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi generasi muda. Mereka akan belajar untuk tidak bergantung pada bantuan pemerintah.

    "Generasi muda harus belajar mandiri. Mereka harus kreatif mencari sumber dana untuk kegiatan mereka. Ini akan membentuk karakter yang kuat dan mandiri" jelas psikolog I Putu Sutrisna.

    Selain itu proses gotong royong dalam pembuatan ogoh-ogoh juga akan memperkuat hubungan sosial di kalangan generasi muda. Mereka akan belajar bekerja sama dan menghargai peran masing-masing dalam tim.

    Meskipun tidak memberikan dana ogoh-ogoh kepada STT Pemerintah Kabupaten Gianyar tetap memiliki program untuk mendukung seni dan budaya. Salah satunya melalui festival seni dan budaya rutin.

    "Kami tetap mendukung seni dan budaya melalui berbagai program. Kami sering mengadakan festival seni dan budaya untuk memfasilitasi seniman lokal" ujar Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar I Nyoman Suartika.

    Selain itu pemerintah juga memberikan pelatihan dan bimbingan kepada seniman muda untuk mengembangkan keterampilan mereka. Program ini bertujuan untuk melestarikan seni dan budaya Bali secara berkelanjutan.

    Tradisi ogoh-ogoh diharapkan tetap lestari meskipun ada perubahan dalam pola pendanaannya. Generasi muda diharapkan dapat melanjutkan tradisi ini dengan semangat gotong royong dan kreativitas.

    "Ogoh-ogoh adalah warisan budaya yang harus kita jaga. Generasi muda harus melanjutkan tradisi ini dengan cara yang lebih kreatif dan inovatif" kata I Made Subamia budayawan Bali.

    Ia menambahkan perubahan pola pendanaan justru bisa menjadi peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi mereka. Mereka bisa mencari model pendanaan baru yang lebih berkelanjutan.

    Bupati Gianyar I Made Mahayastra berpesan kepada generasi muda untuk tidak mudah menyerah. Ia mengajak mereka untuk terus berkarya dan melestarikan budaya Bali dengan cara yang mandiri.

    "Jangan mudah menyerah jika tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Carilah cara lain untuk mewujudkan ide kreatif kalian. Jadilah generasi yang mandiri dan kreatif" pesannya.

    Ia juga berharap generasi muda dapat memahami makna gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Semangat kebersamaan ini harus terus dipupuk untuk kemajuan Bali di masa depan.

    Komentar
    medium banner 300x250
    Additional JS