HARIANEXPRESS, BALI – Taman Pendidikan Sarin Rare yang berada di bawah naungan Yayasan I Ketut Alon merayakan hari ulang tahun ke-16, Rabu (10/6/2026).
Momentum ini dimanfaatkan lembaga pendidikan tersebut untuk meneguhkan komitmen dalam menghadirkan sistem pendidikan inklusif yang ramah anak dengan berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal Bali serta filosofi Tri Hita Karana.
Perayaan hari jadi ini berpusat di Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Rangkaian acara diisi dengan kegiatan refleksi berupa sarasehan budaya bertajuk “Eda Ngaden Awak Bisa: Membangun Generasi Pembelajar yang Rendah Hati, Mandiri, dan Berkarakter Berbasis Kearifan Lokal Bali”. Kegiatan ini mempertemukan para pengajar, pengurus yayasan, serta pemerhati pendidikan untuk mendiskusikan tantangan pengasuhan anak pada era digital.
Ketua Yayasan Sarin Rare, I Made Ariasa, menjelaskan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini semakin kompleks akibat derasnya arus keterbukaan informasi dan fenomena sosial di masyarakat. Menurutnya, sekolah tidak boleh hanya mengejar nilai akademis semata, melainkan wajib menjadi benteng pertahanan moral anak lewat penanaman nilai budi pekerti sejak usia dini.
“Filosofi Eda Ngaden Awak Bisa mengajarkan manusia agar tidak merasa paling bisa atau paling benar, tetapi terus belajar sepanjang hayat dengan sikap rendah hati. Nilai ini sangat relevan diterapkan dalam pendidikan masa kini,” ujar I Made Ariasa.
Penerapan konsep pendidikan di Taman Pendidikan Sarin Rare juga menyelaraskan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Lembaga ini mengintegrasikan pola pembelajaran anti-diskriminasi, di mana anak-anak reguler dan anak dengan kebutuhan khusus mendapatkan hak belajar bersama tanpa adanya sekat pemisah. Selain itu, anak-anak juga diajarkan secara langsung untuk menjaga kelestarian alam dan menjaga keharmonisan hubungan sosial antarsesama siswa.
Melalui momentum pertambahan usia yang ke-16 ini, pihak yayasan berharap seluruh komponen pendidikan, mulai dari lingkungan keluarga hingga pihak sekolah, dapat terus bersinergi. Kesadaran bersama dalam mengawal tumbuh kembang anak secara sehat dan berkarakter dinilai menjadi kunci utama untuk melahirkan generasi muda Bali yang mandiri namun tetap rendah hati.
Masyarakat dan para orang tua diharapkan dapat terus mendukung perkembangan model pendidikan inklusif demi memberikan ruang belajar yang aman, setara, dan ramah bagi masa depan anak.











