Kamis, 10 September 2026
Hot

Gelato Bali Bersiap Menuju Kompetisi Dunia di Italia

Para pembuat gelato di Bali berkompetisi menggunakan bahan lokal seperti salak dan garam Kusamba untuk melaju ke ajang dunia di Italia.

Article ad before first paragraph

Findy Alfiansyah Penulis

HARIAN EXPRESS, BALI – Pembuat gelato bersaing dalam seleksi nasional Gelato World Cup 2026 di Bali, Rabu (2/9/2026).

Ajang besutan Krista Exhibitions ini menguji kemampuan para peserta dalam meracik gelato berbahan dasar lokal. Mereka memperebutkan tiket menuju kompetisi tingkat Asia Pasifik di Jakarta pada November mendatang sebelum melaju ke final di Rimini, Italia, pada awal 2027.

Dalam seleksi di Bali ini, para peserta ditantang membuat dua jenis hidangan dingin, yaitu gelato berbahan susu dan sorbet berbahan buah tropis. Mereka diwajibkan menggunakan bahan-bahan lokal asli Indonesia dan dilarang memakai bahan impor populer seperti kacang pistachio.

Article ad in the middle of article

Sebagai gantinya, para pembuat gelato mengeksplorasi buah dan rempah-rempah seperti nanas, pepaya, durian, kecombrang, daun jeruk, hingga serai. Kreasi lokal lain dari Bali seperti salak, manggis, cokelat artisan, dan garam Kusamba juga turut digunakan untuk memperkuat cita rasa.

Penilaian kompetisi ini tidak hanya berfokus pada rasa, melainkan juga kestabilan tekstur dan kemampuan presentasi peserta. Standar penilaian yang digunakan mengacu pada Association Chef Professionals (ACP) dan Indonesia Pastry Bakery Society (IPBS).

“Kestabilan tekstur menjadi salah satu bagian penting dalam penilaian,” Ujar Caesar Andry Priatno (Praktisi Kuliner sekaligus Pembuat Gelato).

Ia menambahkan bahwa produk gelato idealnya disimpan pada suhu sekitar minus 14 derajat Celsius agar tidak terlalu keras atau lembek. Komposisi antara gula, lemak, dan air harus diperhitungkan dengan sangat matang guna menjaga kualitas hidangan.

Peserta juga dituntut untuk menyampaikan narasi atau cerita mendalam mengenai latar belakang pemilihan bahan lokal yang mereka bawa. Hal ini membuat bahan-bahan pangan tersebut tidak hanya menjadi pelengkap rasa, melainkan pembawa kisah tradisi daerah.

Pertumbuhan gelato di Bali berkembang pesat seiring tingginya aktivitas sektor pariwisata daerah. Data Pemerintah Provinsi Bali menunjukkan kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata saat ini telah menembus angka di atas 690.000 orang per bulan.

Tingkat keterisian kamar hotel di Bali dilaporkan menyentuh angka 67,29 persen. Sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) sendiri memberikan kontribusi sebesar 22 persen terhadap produk domestik regional bruto Bali.

Bali kini tercatat memiliki sekitar 245.000 unit usaha kuliner yang terus berkembang pesat. Kehadiran gelato berbahan lokal ini diharapkan dapat memberikan petualangan rasa baru bagi para wisatawan yang datang berkunjung.

Article ad after last paragraph