HARIANEXPRESS, BULELENG – Kenaikan harga BBM jenis Pertamax membuat warga Buleleng, Bali, memutar otak untuk mengatur ulang pengeluaran bulanan mereka, Rabu (10/6/2026).
Pantauan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Singaraja, Buleleng, menunjukkan aktivitas pengisian BBM yang masih berjalan normal. Namun, tak sedikit pengendara roda dua maupun roda empat yang mengaku terkejut dengan selisih harga baru yang diterapkan.
Bagi warga yang memiliki mobilitas tinggi, kenaikan ini jelas memberikan tekanan tambahan pada alokasi dana transportasi harian. Beberapa dari mereka bahkan mulai mempertimbangkan opsi untuk beralih (downgrade) ke BBM bersubsidi jenis Pertalite, meski dengan risiko antrean yang lebih panjang.
Kadek Suardana (35), seorang pekerja swasta di Buleleng yang kerap menempuh jarak jauh setiap harinya, mengaku harus melakukan penyesuaian anggaran secara ketat.
“Biasanya dengan bujet sekian sudah bisa penuh (full tank) pakai Pertamax, sekarang harganya kerasa lumayan bedanya. Mau tidak mau, pengeluaran untuk pos lain seperti jajan atau hiburan yang harus ditekan, karena BBM ini kan kebutuhan pokok untuk kerja,” ungkap Suardana.
Hal serupa juga dirasakan oleh Ni Luh Putu (28), yang memilih tetap menggunakan Pertamax demi menjaga performa mesin kendaraannya. Kendati demikian, ia terpaksa mengurangi intensitas bepergian yang dirasa kurang penting.
“Saya tetap pakai Pertamax supaya mesin motor tidak gampang rusak, tapi ya risikonya sekarang harus lebih irit jalan. Kalau tidak terlalu mendesak, lebih baik di rumah saja,” keluhnya.
Kenaikan harga bahan bakar non-subsidi ini diharapkan tidak memicu efek domino terhadap naiknya harga kebutuhan pokok lainnya di pasar tradisional. Warga Buleleng berharap pemerintah terus memantau stabilitas ekonomi daerah agar daya beli masyarakat, khususnya di tengah pemulihan ekonomi saat ini, tetap terjaga dengan baik.











