M Ridwan Habibie A Penulis | Redaksi Editor
HARIANEXPRESS, TABANAN- Dinas Pertanian Tabanan menerima bantuan 160 liter disinfektan untuk mencegah penyebaran African Swine Fever di Kabupaten Tabanan, Selasa (10/6/2026).
Bantuan tersebut diberikan untuk memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran virus ASF pada ternak babi. Pencegahan dinilai penting karena populasi ternak babi di Tabanan cukup besar dan tersebar di berbagai kecamatan.
Disinfektan itu berasal dari Balai Besar Veteriner atau BBVet Denpasar. Setelah diterima Dinas Pertanian Tabanan, bantuan tersebut mulai didistribusikan melalui tiga pusat kesehatan hewan atau puskeswan.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tabanan, drh Gede Eka Parta Ariana, mengatakan bantuan disinfektan tersebut sudah diterima sekitar dua minggu lalu. Saat ini, penyaluran dilakukan bertahap sesuai kebutuhan wilayah.
“Disinfektan ini digunakan untuk upaya pencegahan. Distribusinya melalui tiga puskeswan, nanti mereka yang melakukan droping sesuai kondisi di lapangan,” ujar drh Gede Eka Parta Ariana.
Melalui pola distribusi tersebut, puskeswan akan menjadi penghubung antara dinas dan peternak. Petugas di lapangan akan menyesuaikan penyaluran dengan kondisi kandang dan tingkat kebutuhan masing-masing peternak.
Meski bantuan telah diterima, jumlah 160 liter disinfektan dinilai belum mencukupi kebutuhan ideal. Dinas Pertanian Tabanan mencatat populasi ternak babi di daerah itu mencapai 37.566 ekor.
Dengan jumlah populasi tersebut, kebutuhan disinfektan untuk pencegahan penyakit diperkirakan mencapai 720 liter. Artinya, bantuan yang tersedia saat ini masih berada jauh di bawah kebutuhan lapangan.
“Kalau kebutuhan tentu banyak, karena populasi ternak kita besar. Namun yang diberikan saat ini baru 160 liter,” jelasnya.
drh Parta Ariana menambahkan, sepanjang tahun 2026 bantuan disinfektan dari BBVet Denpasar baru diterima satu kali. Penyaluran bantuan berikutnya masih bergantung pada permintaan daerah dan ketersediaan dari pusat.
Di sisi lain, kewaspadaan terhadap ancaman ASF tetap ditingkatkan di seluruh wilayah Tabanan. Seluruh kecamatan diminta tidak lengah karena penyebaran virus pada ternak dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Semua kecamatan harus waspada. Namanya virus, kita tidak tahu kapan datangnya,” tegasnya.
Hingga saat ini, Dinas Pertanian Tabanan belum menerima laporan resmi terkait kasus kematian babi yang mengarah pada ASF. Namun, dinas tetap membuka kemungkinan adanya kasus di masyarakat yang belum dilaporkan.
Menurut drh Parta Ariana, sebagian peternak kerap enggan melapor karena khawatir menanggung kerugian ekonomi. Kekhawatiran itu muncul karena pada kasus sebelumnya, isu ASF sempat berdampak pada penurunan harga babi.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak dapat langsung menyimpulkan kematian ternak sebagai kasus ASF tanpa pemeriksaan laboratorium. Pengujian diperlukan agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak menimbulkan keresahan.
“Kami juga tidak bisa langsung menyatakan itu ASF tanpa uji laboratorium. Harus ada pemeriksaan yang jelas agar tidak menimbulkan polemik,” jelasnya.
Terkait vaksin ASF, Dinas Pertanian Tabanan masih menunggu realisasi dari pemerintah provinsi. Kabupaten akan menyesuaikan pelaksanaan vaksinasi apabila nantinya mendapatkan alokasi.
Sambil menunggu kebijakan lanjutan, biosekuriti kandang tetap menjadi strategi utama pencegahan. Penyemprotan disinfektan, kebersihan kandang, dan pengawasan lalu lintas ternak diharapkan dapat menekan potensi penyebaran ASF di Tabanan.











